Sabtu, 20 Februari 2010


Musim hujan adalah pertanda untuk harus segera mengungsi. Sebab, bila hujan terus menerus turun berarti dalam beberapa hari lagi bencana banjir akan melanda. Apalagi, banjir kerapkali merendam pemukiman yang mereka tinggali akibat curah hujan yang cukup tinggi dan banjir kiriman dari Bogor di kawasan perkampungan Dewi Sartika, Jalan Arus, Jakarta Timur, Kamis (18/2).Luapan Sungai Ciliwung mulai merendam wilayah RW 02 dan 03 permukiman warga yang memang terletak bersebelahan bantaran Kali Ciliwung tersebut, sejak pukul 03.30 WIB.
Dalam beberapa tahun terakhir,banjir seolah menjadi agenda rutin. Berbagai antisipasi disiapkan, salah satunya Memindahkan para warga di sepanjang bantaran sungai, merupakan salah satu cara efektif mengendalikan banjir. Alternatif lainnya adalah dengan menyiapkan perahu-perahu serta tempat pengungsian. Wajar saja, mengingat akses trransportasi sepenuhnya tergenang air saat banjir melanda. Perahu satu-satunya alat evakuasi warga atau yang dikenal dengan istilah getek (kapal getek, adalah jenis kelotok yang fungsinya khusus untuk mengangkut orang.)
Salah satunya adalah Muhayar (64) yang lebih dikenal 'babeh' dikalangan anak-anak muda. Babeh memiliki 4 orang anak (2 cewek dan 2 cowok) serta telah dianugarahi 2 orang cucu. Dia merupakan pensiunan sebuah perusahaan otomotif di jakarta yang juga ikut terkena imbas resis (PHK). Keseharian hidupnya, dia mencukupi kebutuhan keluarga dengan membuka warung kopi, "Ya, maklumlah semua udah pada berkeluarga dan bekerja tinggal yang anak perempuan bungsu saja yang masih mengenyam Sekolah Menengah Pertama di salah satu sekolah swasta di Jakarta, itupun mendapat beasiswa." Tegasnya.

Getek yang diperolehnya bukan merupakan buatan sendiri, melainkan beli secara satu persatu (eceran), mulai dari kayu yang dibuat sebagai bangku dan dayung juga triplek/papan yang digunakan sebagai dasar dari getek tersebut. Kurang lebih lima puluh sampai seratus ribu rupiah untuk ongkos pembuatannya hingga getek tersebut siap pakai.

Banjir kini telah datang dan merendam warung kopi miliknya namun, hal tersebut tidak maatahkan semangtnya untuk berputar otak guna mencari rezeki dalam keadaan tersebut. Dia anak lelakinya pun menjajakan jasa transportasi menggunakan getek bagi warga sekitar yang akan melintas. "Bayarannya seiklasnya saja." uajar Babeh. Dalam sehari dia dapat meraup pemasukan hingga Rp.30.000,-

Meski ketinggian air di kawasan tersebut telah mencapai tinggi pinggang orang dewasa, ditambah lagi hujan yang kerap deras turun tidak mematahkan niat para warga untuk tetap bertahan. mereka lebih memilih tinggal di atap-atap loteng/lantai ke-2 rumah meskipun air dan lumpur telah memasuki tempat tinggal mereka."Hampir 40 tahun saya tinggal dan dibesarkan disini." Begitu jawabannya, saat ditanya alsan mengapa betah berada dikawasan banjir tersebut.
Tidak ada raut kesedihan dari wajah para warga yang tinggal disana, seolah-olah banjir kiriman tersebut dahal hal yang lumrah, aktivitas berjalan selaknya bahkan sejumlah anak-anak tampak asyik bermain dengan air dan beberapa lagi menggunakannya sebagai sanitasi. (agung n)

Sabtu, 14 November 2009

pekerja

Rutinitas Sejumlah kuli panggul kayu mencari dan bertahan guna memenuhi kebutuhan hidupnya di kawasan Sunda Kelapa

eksotisme manggarai


Dibalik segala kemacetan, sampah dan kawasan yang kerap banjir ternyata Manggarai masih memiliki sisi ektetika (keindahan) yang kerap terlewat bagi orang awam
Potret harian para penduduk baduy luar di pagi hari. Meskipun mereka (baduy luar) tyang elah menerima kemajuan dari pihak luar daerah namun segala kesederhanan mereka dapat kita lihat dari sejumlah pakaina yang mereka kenakan.